Jejak Kaki #2 Penyatu Dua Daratan di Palembang, Jembatan Ampera

Kali ini saya mendapatkan kesempatan dinas kerja ke palembang, sudah pasti dibenak kita semua terbayang kalau makanan ya pempek dan tempat yang harus dikunjungi adalah jembatan ampera di list pertama.

Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Saat jabatan Wali kota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi. Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Nah itu sebagian fakta dari jembatan ampera berdasarkan wikipedia.

Oke balik lagi ke ceritanya ya, jadi waktu hari minggu sore saya dan temen kerja mulai berangkat dari penginapan kami. Berkunjung ke sebuah benteng yang tidak jauh dari jembatan ampera, kemudian ambil spot foto dari jauh terlebih dahulu sambil menunggu matahari tenggelam makin kami deket ke jembatan ampera. Dari jembatan kita dapat melihatn bagaimana kegiatan di sungai musi dan padatnya arus lalu lintas yang melintasi jembatan ampera.

Setelah itu karena sedang bulan puasa maka berbuka di sebuah restaurant dekat dari jembatan ampera persis di samping sungai dan dari restaurant tersebut pun mendapatkan spot yang baik buat foto dengan latar jembatan ampera.

Bersyukur lagi dapat menikmati salah satu maskot dari kota palembang, semoga dapat bertemu dengan semua maskot kota seluruh indonesia yaaa!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai